2026-07-21
Ekonom di Dewan Ekonomi Nasional.
Pengajar di Universitas Indonesia.
PhD in Economics, Australian National University.
Riset: kebijakan perdagangan & industri, ekonometrika terapan.
Sapa saya di @imedkrisna atau baca krisna.or.id.
DHE dan keterkaitannya dengan geoekonomi
Geoeconomics is back!
Indokator terkait.
Implikasi: dari indikator ke profil risiko eksportir-importir.
Basis hukum: carve-out dari rezim devisa bebas UU 24/1999 Pasal 2. Sektor: tambang, perkebunan, kehutanan, perikanan — 1.545 pos tarif (KMK 2/KM.4/2025).
| Aturan | Efektif | Ketentuan pokok |
|---|---|---|
| PP 1/2019 | Jan 2019 | Repatriasi ke Rekening Khusus; tanpa retensi |
| PP 36/2023 | Agu 2023 | Retensi 30% / 3 bulan; ambang PPE ≥ USD 250 ribu |
| PP 8/2025 | Mar 2025 | Retensi 100% / 12 bulan nonmigas; migas tetap 30%/3 bln |
| PP 2/2026 | Feb 2026 | Hanya bank Himbara; konversi rupiah maks 50%; SBN valas |
| PP 21/2026 | Jun 2026 | Pengecualian untuk mitra (dan Trump) |
Retensi DHE dilakukan untuk menahan devisa agar tetap di Indonesia.
Efektivitas perlu diteliti lebih lanjut: cashflow dan kewajiban, lending-deposit rate gap, insentif DHE lain.
Apakah kalkulasi geoekonomi mengubah perilaku ekspor impor?
Global Trade Alert mengkode DHE sebagai capital control — evaluasi Red (diskriminatif; intervention 73893).
IMF (Article IV 2025) menyebutnya capital flow management measure dan merekomendasikan phase-out bertahap, tapi bagi pemerintah, pengelolaan DHE adalah mandat konstitusi (UUD 1945 Pasal 33) atas tata kelola SDA.
PP 21/2026 membuat ketatnya rezim DHE fungsi dari diplomasi dagang: ekspor tambang di bawah perjanjian bilateral (kasus: reciprocal trade dengan AS) mendapat rezim ringan 30%/3 bulan.
Artinya: aturan yang Bapak/Ibu awasi sudah menjadi variabel geopolitik.
Di arah sebaliknya, dinamika geopolitik mengubah tujuan ekspor, rute logistik, mekanisme pembayaran, dan manajemen valas — persis objek pengawasan DHE dan DPI.
Maka pertanyaan sesi ini: apa sebenarnya geoekonomi, bagaimana ia menggerakkan perilaku pelaku ekspor-impor, dan dengan indikator apa kita mengukurnya.
Geopolitik: persaingan antar negara untuk memengaruhi sebuah wilayah/negara beserta penduduknya.
Geoekonomi: bidang studi yang mengkaji keterkaitan antara geopolitik dan ekonomi (Mohr & Trebesch 2025). Lebih jauh penggunaan instrumen ekonomi (tarif, sanksi, pemutusan pasokan) untuk tujuan politik, dan sebaliknya.
1915: Inggris menekan Italia agar bergabung dalam Perang Dunia I — dengan ancaman memutus pasokan batu bara dan input tekstil yang didominasi oleh INggris.
Hirschman (1945): struktur perdagangan luar negeri adalah struktur kekuatan nasional. ketergantungan dagang bisa dikonversi menjadi pengaruh politik.
Perdagangan sebagai instrumen kekuasaan sudah berumur berabad-abad; yang baru adalah skalanya hari ini.
Pandangan liberalis: integrasi ekonomi membuat perang makin jarang karena opportunity cost yang tinggi. Damai lebih menguntungkan daripada berantem.
Pandangan realis: integrasi justru memudahkan konflik. Pasar bebas membuat mudah berganti mitra, sehingga biaya konfrontasi kecil menjadi rendah.
Sintesis empiris: globalisasi menekan perang berskala besar tetapi menaikkan frekuensi konflik kecil.
Dua-duanya benar sebagian — dan keduanya relevan untuk membaca dunia pasca-2016.
GPR (Caldara & Iacoviello 2022)
Grafik: jumlah kebijakan industri per tahun (distortif vs liberalisasi), dari NIPO GTA: 81% gelombang pasca-2020 bersifat distortif.
Intervensi terkonsentrasi pada produk dual-use (70%), teknologi maju (46%), rendah karbon (39%), medis (35%), dan mineral kritis (23%).
Motif yang dinyatakan: national security (24%) dan supply-chain resilience (14%) — geopolitik, bukan kegagalan pasar klasik.
Sanksi & export controls AS: pembekuan cadangan devisa dan pemutusan SWIFT (Rusia, 2022); kontrol chip & mesin litografi (Tiongkok, 2022).
Secondary sanctions memaksa negara ketiga memilih rezim kepatuhan: dengan siapa Anda boleh berbank, berkapal, berasuransi, berbagi teknologi.
Tambahkan tembok tarif 2025 — sistem dagang mulai terbelah menjadi sphere AS dan sphere Tiongkok.
Contoh nyata di perjanjian dagang: klausul “Poison Pill” dalam US ART.
Apakah ini sudah terlihat di data perdagangan? Ya.
Gopinath, Gourinchas, Presbitero & Topalova (JIE 2025) — estimasi gravity pada data bilateral granular:
Sejak perang Ukraina, perdagangan antar-blok (AS-sentris vs Tiongkok-sentris) ~11% lebih rendah, dan FDI ~12% lebih rendah, dibanding arus di dalam blok yang sama.
Pembanding sejarah: selama Perang Dingin perdagangan antar-blok jatuh dua pertiga relatif terhadap intra-blok — masih banyak ruang untuk memburuk.
Beda utama dari Perang Dingin: negara “connector” nonblok tidak mengalami penurunan — mereka menjembatani kedua blok dan justru naik perannya.
Indonesia berdagang besar dengan kedua blok. Status connector adalah aset kita.
Krisis Selat Hormuz awal 2026 mengingatkan makna risiko chokepoint: ~1/5 minyak dunia transit di sana.
Australia mengimpor 63% urea-nya (USD 1,02 dari 1,62 miliar) lewat Hormuz. Indonesia sendiri: ~80% impor BBM olahan transit hub Singapura/Malaysia.
22 Juni 2026: MV Medi Luna sandar di Brisbane membawa 47.250 ton urea PT Pupuk Indonesia — kesepakatan G2G Prabowo–Albanese di bawah IA-CEPA, rute bebas-Hormuz.
Kapasitas urea Indonesia 7,8 juta ton vs kebutuhan domestik 6,3 juta ton — surplus yang bisa diekspor.
Pesannya: ketegangan geopolitik me-reroute perdagangan — risiko bagi yang terkonsentrasi, peluang bagi connector. Dan setiap re-routing mengubah profil transaksi DHE/DPI yang Bapak/Ibu awasi.
Schwarzbauer, Gillesberger & Perschke (EcoAustria RP 34, 2026) — wilayah-wilayah Uni Eropa pada krisis 2008/09:
Diversifikasi diukur dengan inverse Herfindahl-Hirschman Index atas pasar tujuan ekspor (gross dan value-added).
Temuan: wilayah yang lebih terdiversifikasi mengalami kontraksi output lebih kecil saat guncangan.
Namun fase pemulihan justru didorong spesialisasi & inovasi — ada trade-off antara daya serap guncangan dan kecepatan pulih.
Pesan metodologis untuk kita: konsentrasi bisa (dan perlu) diukur — dan ukurannya adalah HHI. Ini indikator pertama kita.
Aiyar & Ohnsorge (2024), Geoeconomic Fragmentation and “Connector” Countries:
Basis: jarak geopolitik bilateral = ideal point distance dari pola voting Majelis Umum PBB (Bailey, Strezhnev & Voeten 2017), skala ~0–5.
Database publik: 188 ekonomi, 2002–2023, empat jenis transaksi — ekspor, FDI liabilities, portfolio liabilities, kewajiban ke bank pelapor BIS.
Dari satu distribusi jarak yang sama dibangun dua indikator: rata-ratanya (GeoV) dan sebarannya (GeoC).
GeoVi=∑jwijdij
di mana wij adalah pangsa transaksi negara i (misalnya ekspor) yang menuju mitra j (dengan ∑jwij=1), dan dij adalah jarak ideal-point antara i dan j. GeoV adalah rata-rata tertimbang jarak geopolitik terhadap seluruh mitra.
GeoV tinggi = transaksi kita terkonsentrasi pada mitra yang jauh secara politik → lebih terpapar bila terjadi guncangan geopolitik (sanksi, koersi, fragmentasi).
GeoV rendah = mitra utama kita selaras secara politik.
GeoCi=√NN−1∑jwij(dij−GeoVi)2
dengan notasi yang sama; N adalah jumlah mitra. GeoC adalah simpangan baku tertimbang dari jarak geopolitik — seberapa lebar spektrum ideologi mitra-mitra kita.
GeoC tinggi = kita berdagang dengan kedua sisi spektrum = negara “connector”.
Penting: memotong mitra yang jauh selalu menurunkan GeoV, tetapi bisa menaikkan atau menurunkan GeoC — kerentanan dan keterhubungan adalah dua hal berbeda.
Temuan Aiyar & Ohnsorge: jarak geopolitik menekan transaksi (terbesar pada FDI); EMDEs lebih vulnerable sekaligus lebih connected daripada negara maju; sejak 2016 EMDEs memangkas keduanya.
HHI=∑js2j×10.000
di mana sj adalah pangsa nilai mitra j dalam impor (konsentrasi pemasok) atau ekspor (konsentrasi pasar tujuan) suatu produk, dihitung pada level HS-6. Rentang 0–10.000; makin tinggi makin terkonsentrasi.
CSIS (2026), Strategic Diversification as Indonesia’s Foreign Economic Policy: HHI dan konsentrasi mitra adalah indikator utama substitutability. bersama top supplier share dan elastisitas impor, ia mengukur structural lock-in.
Framing CSIS: strategic diversification ≠ decoupling, ≠ de-risking, ≠ autarki. de-risking berarti diversifikasi tanpa menutup ekonomi.
HHI impor Indonesia melonjak 900 (2016) → 1.085 (2023) → 1.250 (2024) → 1.534 (2025).
Pendorong utama: pangsa Tiongkok dalam impor naik 22,8% → 36,2%; jumlah lini produk dengan ketergantungan-ekstrem pada Tiongkok naik 7 → 30.
Tiongkok dan AS justru terdiversifikasi (AS: realokasi ke Meksiko). Hal ini memperkuat perdagangan menuju trade bloc.
HHI Indonesia untuk ekspor jauh lebih kecil, menunjukkan diversifikasi yang baik.
| HS6 | Produk | Nilai 2025 (USD) | Pemasok utama | Pangsa |
|---|---|---|---|---|
| 851713 | Telecom base stations | 2,98 M | Tiongkok | 99,9% |
| 847130 | Laptop | 1,50 M | Tiongkok | 98,6% |
| 260400 | Bijih nikel | 0,75 M | Filipina | 97,0% |
| 381800 | Silicon wafers | 1,65 M | Tiongkok | 88,0% |
| 854143 | Sel surya | 1,43 M | AS | 88,0% |
| 120190 | Kedelai | 1,19 M | AS | 86,8% |
| 870380 | Kendaraan listrik | 2,60 M | Tiongkok | 79,3% |
| 260111 | Bijih besi | 1,28 M | Australia | 70,4% |
| HS6 | Produk | Nilai 2025 (USD) | Tujuan utama | Pangsa |
|---|---|---|---|---|
| 750120 | Nickel sinter/intermediates | 5,41 M | Tiongkok | 99,9% |
| 270210 | Lignite | 5,73 M | Tiongkok | 98,6% |
| 720260 | Ferro-nickel | 16,39 M | Tiongkok | 96,0% |
| 151110 | CPO | 3,09 M | India | 92,6% |
| 850760 | Baterai li-ion | 4,89 M | Tiongkok | 83,5% |
| 470329 | Wood pulp | 2,42 M | Tiongkok | 74,3% |
| 271121 | Gas alam (pipa) | 1,80 M | Singapura | 100,0% |
Tidak semuanya terkonsentrasi. Contoh dengan pangsa mitra utama rendah:
Ekspor: kopi (top: AS, 13,7%), minyak sawit olahan (USD 21,3 M; top: Pakistan, hanya 15,4%), batu bara non-lignite (USD 18,5 M; top: India, 26,4%), timah, katoda tembaga.
Impor: farmasi (top share ~18–19%), minyak mentah (top: Nigeria, 26,3%), bijih mangan, susu bubuk.
Konsentrasi ≠ otomatis kerentanan. Bergantung pada mitra yang stabil & bersahabat berbeda dengan bergantung pada mitra yang mampu melakukan koersi ekonomi. Di sinilah ideal point berperan.
HHI dihitung atas nilai. Ayunan harga komoditas ikut menggerakkan angka.
Bagaimana literatur mengukur “kedekatan politik” antarnegara? Bailey, Strezhnev & Voeten (2017): estimasi ideal point dari pola voting Majelis Umum PBB, 1946–kini.
Dimensi pertama merangkum posisi terhadap tatanan liberal pimpinan AS: makin tinggi, makin selaras dengan AS.
Keunggulan dibanding sekadar % kesamaan voting: memisahkan perubahan posisi negara dari perubahan agenda sidang.
Inilah bahan baku dij dalam GeoV dan GeoC: dij=|pi−pj| dengan pi ideal point negara i.
Indonesia konsisten netral sejak 1955; yang bergerak dramatis justru AS.
GeoV turun = ekspor kita makin mengalir ke mitra yang selaras secara politik (Tiongkok dkk.) → paparan langsung terhadap guncangan geopolitik turun.
Tetapi GeoC ikut turun = spektrum mitra menyempit → ini konsentrasi, bukan diversifikasi — peran “connector” yang menjadi aset historis Indonesia ikut tergerus.
Bandingkan dengan temuan HHI tadi: dua indikator yang berbeda menunjuk gejala yang sama.
GPR tertimbang mitra: GPRIDNt=∑jwjtGPRCjt, dengan wjt pangsa mitra j dalam perdagangan Indonesia dan GPRCjt
| Indikator | Mengukur | Makna |
|---|---|---|
| GPR & GPR-tertimbang | Intensitas gejolak geopolitik global/mitra | Geopolitical risk, country risk |
| HHI mitra (HS-6) | Konsentrasi pemasok/pasar per produk | Sector risk, trade risk |
| Ideal point distance | Keselarasan politik bilateral | Country risk |
| GeoV & GeoC | Paparan geopolitik agregat per jenis transaksi | Geoeconomic risk |
Semua terukur per-HS6/per-mitra/per-tahun dari data publik → dapat diturunkan menjadi profil risiko per eksportir/importir untuk pengawasan DHE/DPI berbasis risiko.
Geoekonomi adalah konsep lama yang hidup kembali: risiko geopolitik dan intervensi pemerintah meningkat dan perdagangan mulai menuju trade bloc.
Indonesia: HHI impor melonjak semakin konsentrasi, bukan diversifikasi, meskipun dengan mitra yang relatif “satu blok”
DHE sendiri kini rezim dua-jalur yang bergantung pada diplomasi dagang (PP 21/2026): geopolitik sudah ada di dalam rulebook pengawasan.
Semua indikator yang digunakan ini terukur, reproducible, dari data publik.siap dipakai untuk profil risiko eksportir-importir. Reproduksi grafik di github repo, dengan tayangan di sini.
Aiyar, S. & F. Ohnsorge. 2024. Geoeconomic fragmentation and “connector” countries. NCAER WP 173.
Bailey, M., A. Strezhnev & E. Voeten. 2017. Estimating dynamic state preferences from United Nations voting data. Journal of Conflict Resolution 61(2).
Caldara, D. & M. Iacoviello. 2022. Measuring geopolitical risk. American Economic Review 112(4). Data: matteoiacoviello.com/gpr.htm.
CSIS Indonesia. 2026. Strategic Diversification as Indonesia’s Foreign Economic Policy. Jakarta.
Dewan Ekonomi Nasional. 2026. Dashboard Konsentrasi Perdagangan (Juli 2026); Policy Note Geoeconomics (draft).
Global Trade Alert. 2026. New Industrial Policy Observatory (NIPO), April 2026; intervention 73893.
Gopinath, G., P.-O. Gourinchas, A. F. Presbitero & P. Topalova. 2025. Changing global linkages: A new Cold War? Journal of International Economics 153.
IMF. 2026. Indonesia: 2025 Article IV Consultation. Country Report 2026/010.
Mohr, C. & C. Trebesch. 2025. Geoeconomics. Annual Review of Economics 17.
Schwarzbauer, W., M. Gillesberger & S. Perschke. 2026. From shock to recovery. EcoAustria Research Paper 34.
PP 1/2019; PP 36/2023; PP 8/2025; PP 2/2026; PP 21/2026; Bahan Sosialisasi PP 2/2026 (Kemenko Perekonomian, Feb 2026).
UN Comtrade/WITS. 2025–2026. Bilateral trade, HS-6.