
ECES905205 pertemuan 12
Invalid Date
Kemarin: Basic exchange rate, UIP dan CIP.
Hari ini: demand for money and exchange rate in the long run.
MdP=L(R,Y)
di mana Md = demand uang nominal, P = level harga (IHK BPS), R = nominal interest rate (BI 7DRR atau JIBOR), Y = pendapatan nasional riil (PDB riil).
L(R,Y) menurun di R (opportunity cost pegang cash) dan menaik di Y (volume transaksi).
Memorize: “real money demand depends negatively on R and positively on Y”.
Untuk Indonesia: jika BI 7DRR turun, orang lebih banyak pegang giro/saldo; jika PDB tumbuh, transaksi naik → kebutuhan likuiditas naik.
Horizontal: M/P (real money balance).
Vertical: R.
Kurva L(R,Y0) menurun: makin tinggi R, makin kecil L.
Posisi kurva tergantung Y (selanjutnya).

Kenaikan pendapatan nasional riil dari Y0 ke Y1 menggeser seluruh kurva ke kanan/atas.
Pada setiap level R, orang menginginkan lebih banyak saldo riil — karena transaksi lebih banyak.
Kebijakan implikasi: pertumbuhan ekonomi yang sehat butuh ekspansi monetary supply proporsional — jika tidak, R akan naik dan crowd out investasi.
MsP=L(R,Y)
Ms ditentukan BI (lewat OMO/reverse repo); P dan Y ditentukan di pasar barang.
Persamaan ini punya satu unknown: R.
Mekanisme: jika excess supply uang → orang pegang terlalu banyak cash → beli SBN/obligasi → harga obligasi naik → yield (R) turun.
Sebaliknya jika excess demand uang → jual SBN → harga turun → yield naik.
KOM Fig 15.4: BI ekspansi via reverse repo → Ms naik.
Kurva Ms/P vertikal geser ke kanan.
Pada R awal, sekarang ada excess supply uang.
Equilibrium baru di R lebih rendah.
Numerik: jika Ms naik 5% dengan elasticity LR≈−10, R turun dari 5,75% ke ~5,25%.

KOM Fig 15.5: jika Y naik dengan Ms tetap, kurva L(R,Y) geser ke kanan.
Pada R awal, excess demand uang → jual SBN → yield naik → R baru lebih tinggi.
Implikasi penting: pertumbuhan ekonomi otomatis menaikkan R kalau BI tidak menyesuaikan Ms.
Ini kenapa central bank di EM (termasuk BI) cenderung accommodating: kalau Y naik, Ms ditambah agar R tidak naik tajam.
R=R∗+Ee−EE
Jadi rantainya: BI set Ms → money market clear → R terbentuk → UIP menentukan E.
Untuk Indonesia, R = BI 7DRR (~5,75%), R∗ = Fed Funds (~4,5%), Ee = ekspektasi nilai tukar masa depan, E = USD/IDR spot.
Kalau money market di luar negeri (US) juga bergerak, R∗ ikut bergerak, dan rantai kebalikan terjadi pula.
Money market (atas):
Ms/P vertikal, L(R,Y) menurun, Equilibrium R∗ID di perpotongan.
FX market (bawah):
Kunci: R∗ID dari money market menjadi anchor garis vertikal di FX.

BI naikkan Ms (beli SBN via OMO ekspansif).
Money market: Ms/P geser kanan → R turun dari 5,75% ke (misal) 5,25%.
FX market: garis vertikal IDR return geser kiri → E baru di perpotongan dengan USD return → E naik.
Hasil: IDR depresiasi.
Intuisi: bunga rupiah turun → investor cari yield USD → demand USD naik → IDR melemah.
Fed naikkan MsUS → R∗ (Fed Funds) turun.
Pasar uang Indonesia: tidak bergerak — MsID, PID, YID tetap → R tetap.
FX market: USD return curve geser kiri (return USD lebih rendah pada setiap E).
Equilibrium baru E lebih rendah → IDR apresiasi.
Simetris: dovish Fed = tailwind untuk EM currencies, termasuk IDR.
Perubahan MsID → bergerak di kedua market.
Perubahan MsUS → hanya bergerak di FX market, money market Indonesia tidak bergeser.
KOM Fig 15.9: shift ke USD return kiri, money market US tidak ada di gambar (tapi R∗ turun yang menyebabkan shift itu).
Implikasi: efek kebijakan moneter US ke Indonesia murni via FX channel, bukan via domestic credit.
Bandingkan dengan trade channel (Ch.17 nanti) yang lebih lambat.
Dalam jangka panjang, P menyesuaikan penuh.
Y kembali ke potential output (ditentukan supply riil: tenaga kerja, kapital, teknologi).
R riil kembali ke level natural (savings vs investment).
Yang berubah dalam long-run: P dan E secara nominal.
Money neutrality: M↑ proporsional → P↑ proporsional → E↑ proporsional. Real variables tidak terpengaruh.
rata-rata negara Latin Amerika 1987-2014 → korelasi tinggi antara money growth dan inflasi.
Untuk Indonesia long-run: hyperinflation 1965-66 (sudah dibahas M11) adalah kasus paling ekstrem.
Periode stabil 2000-2025: M2 growth ≈ 8-12%/tahun, inflasi ≈ 3-5%/tahun. Gap = pertumbuhan permintaan riil uang (income effect).
Lesson: hubungan M-P kuat di rata-rata jangka panjang; tidak harus tahun-per-tahun.
Bagaimana M↑ secara fisik menaikkan P?
KOM mechanism:
Excess demand goods: lebih banyak rupiah → demand barang dan jasa naik.
Producers naikkan output via overtime → wages tertarik naik untuk kompensasi.
Eventually firms naikkan harga jual untuk cover kenaikan biaya.
Inflation expectations: kalau pekerja & firms ekspektasi P naik karena M naik, mereka langsung negotiate upah & set harga sekarang. Self-fulfilling.
Indonesia: pengaruh inflasi expectations terlihat di consensus forecast, BI’s Persepsi Konsumen Survey (PKS).
Dornbusch (1976) derivation, dengan Ms naik permanen:
t=0: Ms naik. P sticky → Ms/P naik → R turun.
Long-run: P naik proporsional → Ms/P kembali → R kembali ke level awal.
Ee (ekspektasi long-run) naik proporsional ke Ms baru.
UIP saat ini: R turun memerlukan ekspektasi apresiasi → E harus melompat ke atas Ee, baru perlahan apresiasi.
Implikasi: E overshoots — gerakan inisial lebih besar dari long-run shift.

Panel 1: Ms naik 10% permanen di t=0.
Panel 2: R turun di t=0, perlahan kembali ke level awal saat P naik.
Panel 3: P naik perlahan ke level baru 10% lebih tinggi.
Panel 4: E jump melebihi 10% target long-run, lalu perlahan apresiasi ke target.
KOM Fig 15.12: variabilitas bulanan USD/JPY jauh lebih tinggi dari variabilitas rasio PUS/PJP.
Untuk Indonesia: USD/IDR bisa bergerak 1-3% dalam seminggu, sementara CPI Indonesia/US bergerak <0,5% per bulan.
Implikasi:
FX adalah harga aset, yang menyesuaikan instan terhadap berita.
Harga barang (CPI) sticky karena menu costs, contract rigidities, wage stickiness.
Gap ini = sumber FX volatility yang tampak berlebihan dibanding fundamental.
Bukan bug, melainkan fitur empiris open-economy macro.
Law of one price: barang yang sama harus dijual dengan harga sama di pasar berbeda, kalau biaya transport dan barrier tidak ada.
KOM example: pizza identik US$20 vs US$40 di restoran sebelahan → tidak berkelanjutan.
Indonesian example: iPhone 16 Pro 256GB:
Apple Store Singapore: SGD 1.799 ≈ Rp 22,2 juta.
Resmi iBox Indonesia: Rp 24,9 juta (termasuk PPN 12% & PPnBM).
Selisih ~Rp 2,7 juta = pajak + biaya distribusi, bukan arbitrase profit.
LoOP seharusnya holds untuk barang tradable yang homogen, tanpa pajak/transport cost.
P=E⋅P∗
$\Rightarrow E = \frac{P}{P^*}$
ERp/USD=3.280.000200=16.400
Implikasi: 1 USD harus beli barang yang sama dengan Rp 16.400 di Indonesia.
Empiris: hampir tidak pernah holds secara absolute.
Et−Et−1Et−1=πt−π∗t
di mana $\pi$, $\pi^*$ = inflasi domestik dan luar negeri.
Numerik: πID=3%, πUS=2% → ekspektasi ΔE≈1%/tahun (depresiasi IDR).
Untuk IDR 2010-2025 rata-rata: inflasi Indonesia 4,1%, US 2,4% → differential 1,7%/tahun.
Aktual depresiasi USD/IDR: 9.200 (2010) → 16.400 (2026) = ~3,7%/tahun ⇒ gap dengan PPP ~2%/tahun (lebih banyak depresiasi dari prediksi PPP).
Big Mac index (The Economist): harga Big Mac di berbagai negara, semua dalam USD ekuivalen.
Asumsi: Big Mac = tradable basket sederhana.
2024 data (approx):
Indonesia: Rp 49.000.
US: $5,99.
Implied PPP rate: 49.000/5,99≈8.180 Rp/USD.
Actual: 16.400 Rp/USD.
IDR ~50% undervalued vis-à-vis Big Mac PPP.
Apa artinya?
Big Mac di Indonesia lebih murah dalam USD ekuivalen.
Turis dari US merasa Indonesia “murah”.
Tapi ini bukan disequilibrium yang akan dikoreksi:
Sebagian besar input Big Mac (sewa, tenaga kerja, listrik) adalah nontradable.
Indonesia adalah middle-income country dengan upah lebih rendah.
Ini foreshadow Balassa-Samuelson — slide nanti.
“Indeks bakso”: semangkok bakso = Rp 20.000 (warung sederhana Jakarta).
“Indeks ramen Tokyo”: ¥1.200 ≈ Rp 130.000.
Implied rate: 130.000/20.000=6,5 — enormous undervaluation IDR.
Tapi: ramen Tokyo dan bakso Jakarta bukan barang yang sama.
Bakso = primarily nontradable (lokasi, juru masak, sewa Jakarta vs Tokyo).
Lesson: PPP gagal untuk nontradables. Tradables (elektronik, mobil, baju) jauh lebih dekat ke PPP.
P=MsL(R,Y),P∗=M∗sL∗(R∗,Y∗)
E=Ms/L(R,Y)M∗s/L∗(R∗,Y∗)=MsM∗s⋅L∗(R∗,Y∗)L(R,Y)
ER long-run = rasio money supplies × rasio money demands.
Ini disebut monetary approach ke exchange rate.
| Shock | Domestic | Effect on E (Rp/USD) |
|---|---|---|
| MsID↑ | PID↑ proporsional | E↑ proporsional (IDR depresiasi) |
| MsUS↑ | PUS↑ proporsional | E↓ proporsional (IDR apresiasi) |
| RID↑ (via πe↑) | L↓⇒PID↑ | E↑ (IDR depresiasi) |
| YID↑ | L↑⇒PID↓ | E↓ (IDR apresiasi) |
Awas trap: R↑ di sini → IDR depresiasi (lewat ekspektasi inflasi). Berlawanan dengan short-run Ch.15 di mana R↑ → IDR apresiasi (via UIP).
Konteks beda: short-run = R naik karena BI tightening; long-run monetary approach = R naik karena πe naik.
UIP: R=R∗+(Ee−E)/E.
Relative PPP ekspektasi: (Ee−E)/E=πe−π∗e.
Substitusi:
R−R∗=πe−π∗e
Fisher effect: perbedaan nominal rate antar negara = perbedaan ekspektasi inflasi.
Atau ekuivalen: R=r+πe (real rate + expected inflation).
Indonesia: R≈5,75%, πeID≈2,5% → rID≈3,25%.
US: R∗≈4,5%, πeUS≈2,3% → r∗US≈2,2%.
μ = growth rate dari money supply.
KOM Fig 16.1: jika BI permanen naikkan μ dari 5% ke 10%:
Long-run inflation jump dari (misal) 3% ke 8%.
Fisher: R jump dari 5,75% ke 10,75% (naik 5pp matching πe).
Higher R → L↓ → P jump ekstra ke atas trend baru.
PPP: E jump proporsional dengan P.
Setelah itu, M, P, E semua tumbuh pada μ=10%/tahun.
Di Ch.15 (long-run model tanpa PPP): P sticky → E jump berlebihan → overshooting.
Di Ch.16 (monetary approach dengan PPP): P jump bersamaan dengan ekspektasi → tidak ada overshooting.
Mana yang benar?
Short horizon (bulan): P sticky → overshooting realistis.
Medium horizon (tahun): PPP mulai pegang → overshooting reverses.
Kedua model tidak inconsistent; mereka cover horizon berbeda.
KOM slide 25-26: data USD/JPY 1980-2019 menunjukkan PPP tidak track exchange rate jangka panjang.
Untuk Indonesia, mari lihat data USD/IDR vs rasio CPI Indonesia/US 1990-2025 → slide berikut.
Spoiler: gap besar muncul di 1997-98 (krisis Asia) dan 2013-15 (taper).
Kalau PPP holds, USD/IDR akan tracking CPI ratio dengan slope = 1.
Aktual: USD/IDR jauh lebih volatile dari CPI ratio.

Indonesian case 1: 1997 Asian crisis
Pre-1997: USD/IDR ~2.300, PPP path ~3.000 (gap ~25%, slightly undervalued).
1998 puncak krisis: USD/IDR jump ke 16.500. PPP path naik perlahan ke 4.000.
Gap massive ~300% — PPP hopeless sebagai prediktor short-run.
2000-an: gap perlahan menutup; USD/IDR perlahan kembali ke trajectory PPP.
Lesson: PPP holds di rata-rata multi-decade, tapi gagal saat krisis & sudden stops.
KOM 3 reasons:
Trade barriers & nontradables: ongkos kirim, tarif, atau jasa yang tidak bisa diperdagangkan (haircut, sewa apartemen, dokter).
Imperfect competition / pricing to market: firms set harga berbeda di pasar berbeda untuk maksimalkan profit (iPhone Singapore vs Indonesia setelah pajak).
Basket differences: keranjang konsumsi BPS (yang penting beras, mi instan) ≠ keranjang BLS US (yang penting daging, mobil, sewa).
Implikasi: PPP rate yang “fair” sulit didefinisikan secara unik.
KOM contoh persis: jasa (slide 28 c16): “haircut”.
Potong rambut Jakarta: tukang cukur biasa Rp 30.000.
Potong rambut Sydney: AUD 30-50 ≈ Rp 320.000-530.000.
10x lebih mahal di Sydney untuk jasa identik.
Mengapa tidak arbitrase? Karena harus terbang ke Sydney untuk potong rambut — ongkos jauh lebih mahal dari saving.
Kasus inilah yang membuat CPI Indonesia struktural lebih rendah dari CPI Australia/US.
Teori: produktivitas labour di sektor tradable lebih tinggi di negara kaya dibanding negara miskin. Tapi di sektor nontradable, produktivitas relatif sama.
Konsekuensi:
Upah di sektor tradable kaya tinggi (productivity-driven).
Mobilitas labour antar sektor → upah nontradable kaya juga naik.
Nontradable di negara kaya jadi mahal.
CPI overall di negara kaya > CPI negara miskin bahkan setelah konversi PPP.

Big Mac IDR “undervalued” 50% — kelihatannya disequilibrium.
Tapi Balassa-Samuelson menjelaskan: Indonesia GDP per capita ~25% dari US, produktivitas tradables jauh lebih rendah → wages lebih rendah → nontradables lebih murah → CPI lebih rendah.
Yang “underprice” sebenarnya komponen nontradable Big Mac (sewa, listrik, tenaga kerja).
Komponen tradable Big Mac (daging beku, kotak, gandum) PPP-equivalent atau dekat.
Lesson: jangan langsung simpulkan “IDR undervalued” dari Big Mac index — sebagian besar refleksi level pembangunan.
q=E⋅P∗P
Intuisi: harga keranjang US dinilai dalam keranjang Indonesia.
Jika q=1: keranjang US dan Indonesia setara → PPP holds absolute.
Jika q>1: keranjang US lebih mahal dari Indonesia → IDR “real undervalued”.
Untuk Indonesia, q historis di atas 1 dalam USD ekuivalen (CPI Indonesia lebih rendah).
BI publish REER (Real Effective Exchange Rate): q weighted average vs trading partners.
Real apresiasi IDR: q turun. Barang Indonesia jadi mahal relatif US (dalam dollar).
Real depresiasi IDR: q naik. Barang Indonesia jadi murah relatif US.
Hubungan dengan nominal:
Δqq=ΔEE+π∗−π
Contoh 2022: USD/IDR naik 9%, πUS = 8%, πID = 5,5% → Δq/q=9+8−5,5=11,5% (real depresiasi besar).
Eksportir Indonesia 2022 dapat double benefit: nominal depresiasi + real depresiasi → margin Rp besar.
E=q⋅P/P∗
⇒ΔE/E=Δq/q+π−π∗
Dua sumber pergerakan nominal E:
Monetary (π−π∗): differensial inflasi.
Real (Δq/q): real shock — produktivitas, terms of trade, demand shift.
Monetary approach tanpa real component = sederhana tapi sering salah.
Real ER approach = lebih lengkap.

Indonesian case 2: 2022 nickel boom
2022 demand global EV + Russia-Ukraine → harga nikel 2x.
Indonesia: produsen nikel terbesar dunia (~50% produksi global).
Terms of trade Indonesia membaik tajam.
IDR real appreciate: REER naik dari 95 (2020) ke 102 (2022) walaupun Fed lagi hike.
Monetary approach saja tidak bisa jelaskan ini — perlu real demand shock.
Lesson: untuk negara commodity-exporter seperti Indonesia, real ER bergerak kuat dengan ToT.
KOM Fig 16.4: demand dunia untuk produk Indonesia (atau ToT membaik):
Excess demand → harga relatif barang Indonesia naik (dalam dollar).
Real apresiasi: q turun.
Mekanisme adjusting: harga Indonesia (dalam Rp) naik atau E turun (atau kombinasi).
Permanently lebih tinggi q adalah equilibrium baru, bukan disequilibrium.
Implikasi untuk Indonesia: commodity boom → currency appreciate → “Dutch disease” untuk manufaktur.
Counter-policy: SWF (Sovereign Wealth Fund), saving fiscal windfall.
KOM Ch.16: jika produktivitas Indonesia di sektor tradable naik:
Harga relatif barang Indonesia turun (cheaper to produce).
Real depresiasi (q naik).
Tapi Y naik → demand uang naik → P Indonesia turun → ambiguous effect on nominal E.
Indonesian context: kebijakan hilirisasi (nikel, batubara, CPO) bertujuan menaikkan produktivitas tradable.
Efek pada nominal IDR ambigu — tergantung apakah commodity price boost (demand) atau cost saving (supply) yang dominan.
| Shock | Real ER q | Nominal ERp/USD |
|---|---|---|
| MsID↑ | tidak berubah (long-run) | naik proporsional |
| MsUS↑ | tidak berubah | turun proporsional |
| μID↑ (money growth) | tidak berubah | naik di growth rate |
| Demand global untuk barang ID ↑ | turun (apresiasi real) | turun (apresiasi) |
| Demand global untuk barang US ↑ | naik (depresiasi real) | naik (depresiasi) |
| Supply ID ↑ (produktivitas) | naik (depresiasi real) | ambigu |
| Supply US ↑ (produktivitas) | turun (apresiasi real) | ambigu |
Monetary shocks → nominal E via PPP, tidak ubah q.
Real shocks → ubah q langsung.
Dari Fisher: R=r+πe, R∗=r∗+π∗e.
Dari UIP: R−R∗=(Ee−E)/E.
Dari E=q⋅P/P∗: ΔE/E=Δq/q+π−π∗.
Combining:
r−r∗=qe−qq
Real interest parity: differential real rate = ekspektasi perubahan real ER.
Untuk Indonesia 2025: rID≈3,25%, r∗US≈2,2% → r−r∗≈1% → pasar ekspektasi q Indonesia akan real depresiasi ~1%/tahun.
Money market: Ms/P=L(R,Y) → menentukan R, kemudian masuk ke UIP untuk menentukan E.
Long-run: money neutrality — M↑ → P↑ → E↑ proporsional.
Overshooting muncul karena P sticky di short-run, E adjust instant.
PPP: E=P/P∗. Gagal empiris karena nontradables, productivity gap, basket differences.
Fisher: R−R∗=πe−π∗e. Real rate + inflation expectations.
Real ER q=EP∗/P: jembatan antara monetary approach dan dunia nyata.
Real interest parity: differential real rate = ekspektasi Δq.
Diketahui: πID=4%, πUS=2%, E2025=16.400, relative PPP holds.
Berapa ekspektasi E2026?
Solusi:
ΔEE=πID−πUS=4%−2%=2%
E2026=16.400×1,02=16.728
Diketahui: USD/IDR turun 2% dalam setahun, πID=5%, πUS=8%.
Berapa Δq/q?
Solusi:
Δqq=ΔEE+π∗−π=−2+8−5=+1%
IDR nominal apresiasi 2%.
IDR real depresiasi 1%.
Interpretasi: walaupun nominal kuat, barang Indonesia relatif lebih murah dibanding US karena inflasi US jauh lebih tinggi.
Implikasi: eksportir Indonesia diuntungkan secara real, walaupun secara nominal melihat E turun.
Diketahui: RID=6,00%, πeID=3%, R∗US=4,25%, π∗eUS=2%.
Berapa ekspektasi Δq/q?
Solusi:
rID=6,00−3=3,00%,r∗US=4,25−2=2,25%
qe−qq=rID−r∗US=0,75%
Pasar mengekspektasikan IDR real depresiasi ~0,75%/tahun.
Kontekstualisasi: Indonesia menawarkan real rate lebih tinggi → kompensasi ekspektasi real depresiasi.
Pekan depan: bawa Y ke gambar — model AA-DD untuk output + ER short-run (KOM Ch.17).