ASEAN di antara multilateralisme yang meluruh dan blok-blokisasi baru
2026-05-17
Ketika payung WTO bocor, apa yang dilakukan negara kecil terbuka seperti ASEAN?
ASEAN berdiri di tengah dua arus besar: erosi multilateralisme (WTO macet) dan kebangkitan blok-blokisasi (RCEP, CPTPP, IPEF, BRICS).
Indonesia dan ASEAN harus menjawab: bergerak ke arah mana, dengan siapa, dan bagaimana melindungi welfare?
Framing: postwar order vs fragmentasi (~20 menit)
Respon ASEAN: FTA ekstra-regional (~25 menit) + diskusi (~10 menit)
Multilateralisme vs minilateralisme (~15 menit)
Tiga kasus Indonesia: EUDR, nikel, Trade War 2.0 (~20 menit)
Sintesis (~10 menit)
ASEAN = ekonomi kecil-terbuka. Trade/GDP rata-rata >100% (Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand).
Indonesia “anomali ASEAN”: trade/GDP ~40%, ekspor ke AS <10% total ekspor (TIB 2025).
Konsentrasi pasar tetap tinggi: 5 negara tujuan utama menyerap >55% ekspor non-migas Indonesia.
Implikasi: shock di sistem multilateral menyebar tidak merata di antara anggota ASEAN.
Bretton Woods (1944) memecahkan tiga trilemma — moneter, finansial, dan ekonomi-politik — dengan mengorbankan mobilitas modal demi ruang kebijakan domestik.
Hasilnya: hyperglobalization pasca-1991. Trade/GDP dunia naik dari <10% (pre-1945) ke >50% (2008).
Trade/GDP dunia 1830–2005. Sumbu-x: tahun; sumbu-y: rasio perdagangan terhadap PDB dunia. Sumber: Obstfeld (2024). Pola: pertumbuhan eksponensial pasca-1945, plateau setelah GFC.
Pangsa PDB global 1980–2022. Sumbu-x: tahun; sumbu-y: % PDB dunia. Garis: AS, China, EMDEs. Sumber: Obstfeld (2024). Pola: AS turun dari 48% (1980) ke 32% (2022); China + EMDEs naik dari 2% ke 20%.
“Globalization grew to the point of unleashing political and geopolitical forces that now threaten to bring global fragmentation.” — Obstfeld (2024)
Empat tekanan bersamaan: perubahan iklim, pandemi, perang besar (Ukraina), rivalitas AS-China.
Domestik: distribusi gain tidak merata → backlash populis di negara maju.
WTO dan UN security council deadlock pada saat dunia paling butuh koordinasi.
Pertumbuhan perdagangan dunia stagnan pasca-2012 (“slowbalization”).
Tarif berubah dari instrumen ekonomi menjadi senjata geopolitik (export controls, sanctions, choke-points).
Ini bukan kembali ke abad ke-19 — connectivity tetap tinggi, tapi rules melemah.
Preview: lihat eskalasi Trade War 1.0 → 2.0 di Bagian IV.
Lima FTA ekstra-ASEAN aktif sejak 2008-2010, lalu RCEP 2022:
| FTA | Mulai berlaku |
|---|---|
| ASEAN-China (ACFTA) | 2010 |
| ASEAN-Korea (AKFTA) | 2010 |
| ASEAN-Japan (AJCEP) | 2008 |
| ASEAN-Australia-NZ (AANZFTA) | 2010 |
| ASEAN-India (AIFTA) | 2010 |
| RCEP | 2022 |
Sumber: Kumari (2024). ASEAN punya jaring perjanjian terdalam di kawasan Asia-Pasifik.
Mengapa Indonesia berdagang lebih banyak dengan Singapura daripada Argentina? Karena dekat dan ekonominya cukup besar.
Persamaan dasar gravity model:
Xij=G⋅YαiYβjDγij
di mana Xij adalah nilai ekspor dari negara i ke negara j; Yi,Yj adalah ukuran ekonomi (PDB); Dij adalah jarak ekonomi (geografis + tarif + non-tarif barrier); dan G konstanta.
Trade Creation (baik)
Perdagangan baru tercipta karena geser dari produsen domestik mahal ke partner FTA murah → naik efisiensi, naik welfare.
Trade Diversion (ambigu)
Perdagangan geser dari produsen non-partner murah ke partner FTA hanya karena tarif preferensial → bisa turun welfare meski volume trade naik.
Inti: volume trade naik bukan otomatis berarti FTA berhasil. Yang penting komposisinya.
Tabel TC/TD ASEAN+6 (Handoyo et al. 2021). Kolom FTA1/FTA2/FTA3 = intra-bloc/export-creation/import-creation. Sumber: Handoyo et al. (2021) Tabel 3 hal. 10.
Primary commodities: net TC 55-64%.
Manufactured goods: net TC 21-37%.
Kesimpulan paper: ASEAN+6 secara agregat = net trade creating.
Perdagangan India-ASEAN 2003-2019. Sumbu-x: tahun; sumbu-y: USD miliar. Sumber: Singh (2021) Tabel 1 hal. 2.
Intra-bloc trade naik +610% pasca AIFTA.
Tapi: pangsa ASEAN dalam defisit perdagangan India naik dari 5,2% (2010) ke 15% (2019).
Import creation lebih dominan dari export creation untuk India.
Estimasi structural gravity 5 FTA ASEAN. Sumber: Kumari (2024) Tabel 2 hal. 3.
Saat memasukkan intra-national trade flows (perdagangan domestik): ASEAN-China diverting (-36%), ASEAN-ANZ diverting (-20%), AIFTA insignificant.
Bertentangan dengan temuan Handoyo dan Singh!
Spesifikasi model: Handoyo & Singh pakai gravity sederhana; Kumari pakai structural gravity dengan time-varying country FE + intra-national trade.
Time-varying FE menyerap variasi yang sebelumnya dianggap “efek FTA”.
Inklusi domestic trade sebagai counterfactual mengubah baseline.
Pelajaran metodologis: hasil ekonometrika trade sangat sensitif terhadap pilihan model. Jangan jadikan FTA “obat dewa” hanya karena satu paper bilang positif.
Ekspor Indonesia ke China naik signifikan pasca-ACFTA — tapi dominan komoditas mentah (HS 27 bahan bakar mineral, HS 15 minyak nabati, HS 72 besi-baja).
Impor dari China didominasi mesin (HS 84, 14%), elektronik (HS 85, 14%), kendaraan (HS 87, 6%) — barang dengan teknologi lebih tinggi.
Pola ini = ciri klasik trade based on factor endowment, bukan upgrading.
Sumber: TIB EUDR Juni 2023.
Kalau FTA tidak otomatis create trade, dan kalau pola perdagangan Indonesia dengan ASEAN+ masih berbasis komoditas mentah…
Apa sebenarnya yang dicari ASEAN dari FTA ekstra-regional?
Diskusi di slide berikutnya.
Ekspor Indonesia ke China naik berkali lipat sejak ACFTA — tetapi sebagian besar berupa komoditas mentah, sementara impor mesin & elektronik dari China juga melonjak.
Apakah ASEAN-China FTA “create” atau “divert” trade bagi Indonesia? Bagaimana dengan welfare?
Format:
Tidak ada perjanjian multilateral substantif baru sejak Trade Facilitation Agreement (2013).
Appellate Body paralysis sejak Desember 2019: AS memblokir penunjukan hakim baru.
Consensus rule di WTO = veto rule: satu anggota bisa menahan keputusan 164 anggota.
Konsekuensi: negara beralih ke bilateral, RTA, plurilateral — tapi tanpa koordinasi multilateral, ini = fragmentasi.
Sumber: Revindo et al. (2022), T20 brief.
(a) Reformasi WTO
JSI berjenjang, DSM revival, G20 sebagai inkubator
(b) Minilateralisme
Sub-grup like-minded bertindak duluan; multilateralize kemudian
(c) Fragmentasi blok
Dunia terbelah jadi blok-blok dagang yang bersaing
Pertanyaan untuk ASEAN: pilih (a) atau (b), karena (c) merugikan.
Hierarchical JSI pyramid: Observer → Limited+S&DT → Full obligations w/ LDC exempt → Full → Multilateralization. Sumber: Revindo et al. (2022) Gambar 1 hal. 6.
Solusi DSM: term limits 6-8 tahun, auto-launch AB selection, capacity building untuk negara berkembang.
Peran G20: analisis RTA untuk identifikasi elemen yang bisa di-multilateralisasi.
“While the preservation of ASEAN unity is important, the regional bloc must balance the usefulness of moving together against the loss of credibility if it fails to act.” — Jin & Lee (2023), ISEAS
82,6% responden Asia menganggap konsensus ASEAN “slow & irrelevant”.
Contoh minilateral berhasil: Malacca Straits Patrol (4 negara), Sulu Sea trilateral, “Our Eyes” counterterrorism (6 → 10 negara).
Usulan: ASEAN South China Sea Forum (4 claimants + Indonesia) untuk negosiasi Code of Conduct dari posisi blok kuat.
RCEP (2022): 15 negara, FTA ekonomi terbesar dunia. Indonesia anggota.
CPTPP: 12 negara, standar lebih tinggi (digital, labor, SOE). Indonesia belum.
IPEF: inisiatif AS, 14 negara, tanpa market access. Indonesia ikut.
BRICS+: Indonesia bergabung 2025.
Bilateral: IEU-CEPA (15 putaran), IUS PTA terbatas (sedang dirintis pasca TW 2.0).
Indonesia ada di semua meja — tapi tanpa strategi jelas, ini bukan kekuatan, ini hedging tanpa arah.
Saat aturan multilateral lemah, Indonesia berperan dalam tiga cara berbeda:
TARGET dari aturan baru — EUDR
DEFENDER kebijakan industri vs aturan WTO — larangan ekspor nikel
OPPORTUNIST → TARGET dalam great-power competition — Trade War 1.0 → 2.0
EU Deforestation Regulation (Des 2022, mandatory mulai 2025).
7 komoditas: sawit, daging, kopi, kayu, kakao, karet, kedelai → harus bebas deforestasi pasca-31 Des 2020 + traceable + legal.
Indonesia harus menunjukkan dokumentasi geolokasi setiap shipment.
Kiri: Defisit perdagangan EU vs Indonesia 2013-2022 (USD miliar). Kanan: Produk ekspor utama Indonesia ke EU 2018-2022 (USD miliar). Sumber: Revindo (2023) TIB EUDR Gambar 1 hal. 2 + Tabel 1 hal. 3.
Bukan murni isu lingkungan — UE adalah importir sawit terbesar dunia dan punya substitusi domestik (rapeseed, sunflower).
Bargaining chip untuk negosiasi IEU-CEPA (putaran ke-14 berdekatan dengan persetujuan EUDR).
Indonesia bisa: (1) negosiasi cut-off date deforestasi, (2) tunjukkan capaian deforestasi turun 75% (2019-2020) dan 8,4% (2021-2022), (3) leverage SDG 15.
Risiko: kompensasi dalam IEU-CEPA — jangan korbankan kebijakan nikel/bauksit atau PBJ pemerintah.
Sejak 2020, Indonesia melarang ekspor bijih nikel mentah → memaksa pembangunan smelter di dalam negeri.
EU menggugat di WTO (Art. XI GATT: prohibition of quantitative restrictions).
Indonesia kalah di panel (2022); banding terhenti karena AB paralysis → status hukum: limbo.
Slide argumen WTO larangan ekspor nikel. Sumber: Revindo (2023) Hilirisasi slide 5.
Argumen internal (kedaulatan, nilai tambah) — lemah di hadapan WTO.
Argumen eksternal yang dibutuhkan: pasokan dunia masih cukup; Indonesia tidak melarang ekspor bahan olahan; kebutuhan domestik (smelter FDI) signifikan.
Trade-off model hilirisasi. Sumber: Revindo (2023) Hilirisasi slide 3.
Proteksi: nilai tambah/unit tinggi, pasar terbatas, risiko WTO/retaliasi.
Insentif + fasilitasi: nilai tambah/unit kecil, pasar luas, mengarah GVC.
Indonesia perlu memilih secara selektif per produk — bukan satu kebijakan untuk semua mineral.
Tanpa Appellate Body yang berfungsi, gugatan EU “menggantung” → de facto Indonesia menang waktu, tapi reputasi sebagai rule-taker turun.
Negara lain (Filipina, Australia, Kaledonia Baru) menaikkan pangsa ekspor nikel mentah → trade diversion regional.
Pelajaran: kebijakan industrial unilateral butuh argumen multilateral yang kredibel — bukan sekadar “kedaulatan negara”.
Tarif AS terhadap China naik dari 3,1% (Jan 2018) ke 19,3% (Feb 2020); tarif AS atas RoW hanya naik dari 2,2% ke 3,0%.
Indonesia diuntungkan: estimasi GTAP-VA menunjukkan Developing ASEAN mengalami +0,25% kenaikan DVA ekspor ke AS — kenaikan terbesar di antara semua region.
Domestic value-added ekspor ke AS, skenario trade war vs baseline. Sumber: Revindo, Hasan & Sabrina (2021) Tabel 5 hal. 15.
Diagram alur dampak TW 1.0 pada Indonesia–China–AS–RoW–ASEAN lain. Merah = ancaman; hijau = peluang bagi Indonesia. Sumber: TIB 2025 hal. 9.
Indonesia substitusi sebagian produk China di pasar AS (terutama tekstil, alas kaki, agri-products).
Vietnam paling diuntungkan; Indonesia tertinggal.
Reciprocal tariffs Trump per 5 April 2025. Sumber: Annex-I White House Executive Orders (2025), diolah LPEM FEB UI, TIB 2025 hal. 12.
Indonesia 32%, China 34%, Vietnam 46%, Kamboja 49%.
Gap Indonesia-China hanya 2% → strategi substitusi TW 1.0 tidak berlaku lagi.
Produk ekspor utama Indonesia ke AS 2017-2024 (USD ribu). Sumber: ITC Trade Map, TIB 2025 hal. 17.
CPO, alas kaki (HS 6403, 6404), karet, smartphone (HS 8517), elektronik (HS 8543), udang & krustasea.
Nilai ekspor 2024: HS 8517 ~USD910 juta; HS 8543 ~USD1,03 miliar.
Bilateral: rintis PTA/FTA terbatas dengan AS; jangan terpancing retaliasi.
Diversifikasi mitra: akselerasi IEU-CEPA, BRICS, aksesi OECD, optimalisasi RCEP.
Production cooperation dengan negara low-tariff (Jepang 24%, Singapura 10%, Malaysia 24%) untuk menarik FDI intermediate goods.
Reformasi domestik: turunkan ICOR, perkuat anti-dumping, audit hambatan non-tarif yang kontraproduktif.
Hati-hati: konsesi liberalisasi punya efek asimetris bagi industri dalam negeri.
Ketika payung WTO bocor, apa yang dilakukan negara kecil terbuka seperti ASEAN?
Tiga jalan: reformasi multilateral, minilateralisme, atau fragmentasi blok.
ASEAN sudah memilih kombinasi (a) + (b) — tapi terus terancam (c) dari luar.
FTA bukan obat dewa — bukti empiris mixed; perhatikan komposisi trade, bukan hanya volume.
Minilateralisme realistis tapi butuh desain — bertindak dengan koalisi like-minded, jangan menunggu konsensus 10 anggota.
Hilirisasi butuh argumen multilateral — proteksi sektoral tanpa narasi global akan kalah di forum dispute.
Diversifikasi mitra dagang — ketergantungan satu pasar (AS, China, EU) = vulnerability geopolitik.
Trade bukan untuk akumulasi surplus — itu mitos merkantilis (ingat pertemuan tentang global imbalance).
Trade = tools untuk efisiensi alokasi sumber daya dan peningkatan welfare.
Maka ukuran sukses kebijakan trade ASEAN/Indonesia bukan “neraca surplus berapa”, tapi apakah masyarakat lebih sejahtera.
Pertanyaan & diskusi.