Global Value Chain (GVC) adalah jargon yang kerap kali meramaikan jagat akademisi maupun konsultan ketika kita bicara soal perdagangan internasional dan pertumbuhan industri manufaktur. Kalau diharfiahkan dalam bahasa Indonesia, GVC jadi Rantai Pasok Global (RPG). Tapi ya aneh rasanya pakai singkatan RPG karena bagi saya RPG memiliki arti lain wkwk. jadi kita pakai GVC aja yaa.
Beberapa waktu yang lalu, twitter sempat ramai soal upah minimum. Sepertinya gara-garanya adalah berita tentang Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah yang berkomentar tentang tingginya upah minimum di Indonesia. Salah satu berita yang sangat ramai adalah yang ditwitkan oleh CNN Indonesia di bawah ini.
We often see the news comparing GDP between countries. These GDPs are usually measured in constant USD or current USD. While these GDP measures are useful for comparing economic power (not the best vocab to use? Not sure what’s better tho), they are not very useful to compare standard of living. That’s because price level in one country is different than other countries. While Indonesian GDP is smaller than Australia if we measure it with current USD, Indonesian GDP is actually bigger if measured with GDP PPP.
Hari ini saya sarapan gado-gado. Menurut saya, gado-gado (dan bumbu kacang secara umum) adalah sebuah fenomena yang luar biasa. Meskipun kacang pertama kali diperkenalkan oleh Portugis yang dibawa dari Mexico, Masyarakat Indonesialah yang pertama kali membuat bumbu kacang. Bumbu kacang ini sungguh versatile karena bisa dicampur apa aja. Dikasih sayur, bisa. Kasih gorengan, enak. Nasi uduk, hayu. Buat bumbu ayam bakar, ya bisa (alias jadi sate).
Cabai adalah salah satu komoditas yang sangat penting. Masyarakat Indonesia sangat menyukai cabai. Saya sampai kuliah ke luar negeri pun tetap suka beli sambel karena memang cabai seenak itu. Tidak hanya vital dalam berbagai masakan a la nusantara, tapi juga mengandung vitamin c yang sangat tinggi loh gaes!
Finally I got to upgrade my stata to Stata 17! I was looking forward to using Stata in my Python environment. This post is just me trying a PPML package (Stata, not the USITC one)
This post is created to quickly demonstrate one of the possible answer of question 4 of tutorial 1 of ECON3102. I chose to use r’s WDI to show it but any other software and any other source of data can be used obviously. The reason why I use WDI is because it is convinient and easy to show some graph. If we use World Development Indicators we don’t even need to download it. Just use its graph function which is super convinient.
Saya sangat jarang nulis di blog tentang COVID-19. Terakhir ngepost tentang stats covid kayaknya waktu bahas soal kematian. Hari ini mau coba lihat lagi statistik COVID-19 di Indonesia, terutama belakangan ini karena lagi ramai lagi soal undertesting.
Pada postingan saya yang lalu, saya nulis tentang perpindahan saya ke keyboard mekanik untuk pertama kalinya. Keyboard non mekanik saya terakhir adalah Logitech MX Keys yang saya beli dalam rangka work from home. Di situ juga saya tulis perjalanan saya sampai pada nyobain Razer Huntsman, sebuah keyboard mekanik tapi sebenernya optikal.
Twitter saat ini sedang ramai gara-gara postingan BEM UI yang ini:
Diantara replies-repliesnya, ada beberapa yang menarik, yang intinya mempertanyakan legitimasi BEM UI dalam mewakili seluruh aspirasi mahasiswa Universitas Indonesia. Beberapa juga berkata bahwa BEM UI sebaiknya jangan dijadikan alat politik. Bahkan ada yang menyerang ketuanya dan mempermasalahkan bahwa ketua BEM UI adalah bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)