Masalah ketimpangan merupakan salah satu masalah yang sangat penting dewasa ini. Tentu anda sering lihat orang-orang membicarakan masalah ketimpangan di media sosial. Baru-baru ini ada akun twitter yang lewat di lini masa saya bilang bahwa di saat banyak orang miskin seperti ini kok bisa-bisanya ada tiket ColdPlay harganya 11 juta?? Laku pula! Ludes des des!!
Indonesia dikejutkan pada suatu hari libur dengan diterbitkannya Perpu Cipta Kerja sebagai pengganti UU yang saat ini tengah diperdebatkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Sepertinya ini diakibatkan oleh kekhawatiran pemerintah akan investasi asing. Argumennya adalah, dengan UU CK yang masih diperdebatkan oleh MK mengakibatkan ketidak pastian bagi investor. Hal ini ditambah lagi dengan masuknya tahun politik, yang membuat perkembangan UU CK, yang sekarang bolanya sedang di Pemerintah, jadi serba tidak pasti.
Saya barusan aja beres baca buku How the World Become Rich: the Historical Origins of Economic Growth.
Buku ini ditulis oleh dua economic historian yang sangat mumpuni di bidangnya. Buku ini membahas tentang bagaimana dunia ini menjadi sejahtera. Bahwa secara umum, progres umat manusia ini sangat luar biasa. Orang termiskin di bumi saat ini bahkan lebih punya standar hidup yang lebih baik daripada orang terkaya jaman medieval dulu. Contohnya, banyak penyakit yang membunuh bangsawan jaman dulu sudah ada treatmentnya zaman sekarang. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada kemiskinan yang harus dientaskan, dan Koyama & Rubin mengatakan bahwa belajar dari sejarah dapat menawarkan solusi mensejahterakan dunia ini lebih jauh lagi ke depannya.
Perbincangan tentang peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan anti impor sudah sering bergaung di kalangan pejabat publik. Bahkan, belakangan ini rasanya perbincangan ini terdengar semakin sering. Tentu saja menggunakan barang-barang produksi dalam negeri adalah sesuatu yang tidak jelek. Yang jadi masalah adalah kalau dipaksa. Cinta produk dalam negeri, seperti halnya cinta pada yang lain, sangat ga asik jika dipaksa. Nah, salah satu instrumen yang sedang marak digunakan oleh Indonesia adalah TKDN.
(update 7 April 2022: nambah no. 8 di tabel 1)
Beberapa hari ini pemerintah sedang dihebohkan dengan naiknya harga minyak goreng. Pemerintah berusaha agar harga minyak goreng (migor) bisa ditahan di harga rendah. Presiden menugaskan Kementerian Perdagangan untuk menjaga agar harga migor bisa terkendali. Sementara itu, instrumen yang digunakan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) adalah pengenaan Domestic Market Obligation (DMO) bagi minyak kelapa sawit sebagai bahan baku migor dan penetapan Domestic Price Obligation (DPO) bagi minyak sawit dan Harga Eceran Tertinggi (HET) bagi migor. Berikut rincian Permendag yang sudah dikeluarkan oleh Kemendag sampai tulisan ini dibuat.
Apakah naiknya harga komoditas internasional akan berpengaruh besar pada harga sembako? Bisa jadi ya. Di acara ig live dengan merdeka beberapa waktu lalu, saya sempat menjelaskan bahwa kenaikan harga beberapa sembako kemungkinan akan cukup stabil. Hal ini akibat kebijakan quota impor yang diterapkan oleh Kementerian perdagangan.
Tadi pagi nonton acara youtube “Ngobrol Tempo” di Youtube. Acaranya diisi oleh para pejabat Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Gabel, asosiasi produsen produk elektronik. Isinya tentang bagaimana cara melakukan substitusi impor produk-produk elektronika di tengah kebijakan Kementerian Perindustrian untuk menurunkan impor sebesar 35%. Acaranya sendiri saya rasa cukup menarik dan saya sangat senang bagaimana Bu Ratna dari Tempo memimpin jalannya diskusi. Ada beberapa hal yang menurut saya sangat menarik.
Pada tanggal 24 Februari 2022, Rusia tiba-tiba menyerang Ukraina. Sebenernya ga bisa dibilang tiba-tiba juga sih soalnya sepertinya intelijen Amerika Serikat udah tau Rusia bakal nyerang Ukraina dalam waktu dekat. Saat blog ini ditulis, perang masih berjalan. Pihak Rusia menyerang dari 3 arah, dan sisi laut hitam dari Ukraina sudah hampir sepenuhnya dikuasai Rusia.
A couple of days ago, I was forwarded a news from Asia Nikkei by my colleague, Deasy Pane. The news is about Indonesia’s plan to ban exports of raw minerals (the likes of bauxite, tin, gold and copper) in the middle of 2023. This is not very surprising, knowing that nickel ore exports was banned in the start of 2020, with Indonesian President is willing to “fight in any way” of possible WTO complaint. Based on the strong export performance of nickel’s downstream industries, it is safe to say that the Indonesian President surely will expand the export ban.
Postingan kali ini bermula dari sebuah twit berita berikut ini.
Baru nyadar dampak pelarangan bijih nikel ternyata *sebesar* itu. Indonesia sekarang jadi eksportir stainless steel terbesar dunia, salah satu produk turunan feronikel.https://t.co/qonkL4o33d