Geoeconomics and Economic Transformation
The University of Sydney
Sydney, NSW
Saya berbicara di Sesi Pleno 1 KIPI 2026, Konferensi Internasional Pelajar Indonesia ke-11 yang diselenggarakan PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia), dengan tema konferensi “Navigating Global Uncertainty with Clarity and Purpose.”
Ada tiga poin utama. Pertama, ketidakpastian bersifat struktural: risiko geopolitik tetap tinggi sejak 2022, dan pemerintah di seluruh dunia kini mengumumkan intervensi kira-kira dua kali lipat per tahun dibanding dekade 2010-an, sebagian besar dengan alasan keamanan nasional dan ketahanan rantai pasok. Kedua, perdagangan mulai tertata ulang menurut blok geopolitik — tetapi negara-negara nonblok justru diuntungkan sebagai “konektor”. Ketiga, Indonesia dan Australia adalah konektor alami: kesepakatan urea 2026 (MV Medi Luna, Brisbane) menunjukkan bagaimana risiko chokepoint bisa dijawab dengan kapasitas surplus mitra melalui perjanjian yang sudah ada, seperti IA-CEPA.

Nama saya Krisna, sering dipanggil juga Imed. Saya adalah Tenaga Ahli Madya di Dewan Ekonomi Nasional. Riset saya tentang dampak kebijakan perdagangan dan investasi terhadap pertumbuhan sektor manufaktur di Indonesia. Saya menggunakan metode persamaan linear struktural seperti GTAP, tapi juga menggunakan berbagai teknik ekonometrika seperti gravity models.
Saya saat ini mengajar Program Sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Saya juga adalah mitra senior di Center for Indonesian Policy Studies. Saya cukup aktif berkontribusi menulis di media massa seperti Kompas, Jakarta Post, dan East Asia Forum.