Indonesia's Economy in 2026

28 Juli 2026·
Krisna Gupta
Krisna Gupta
· 2 menit untuk membaca
Abstrak
Briefing ekonomi internal untuk Toyota Tsusho di Jakarta. Bagian pertama membaca PDB Triwulan I-2026 dan data bulanan di belakangnya — pertumbuhan menurut pengeluaran dan lapangan usaha, apa yang sebenarnya menopang industri pengolahan, neraca perdagangan, inflasi, likuiditas perbankan dan aliran modal, serta afirmasi rating S&P pada Juli 2026 di tengah Moody’s dan Fitch yang menurunkan outlook menjadi negatif. Bagian kedua mendalami tiga tema: harga pangan bergejolak menjelang El Niño terkuat dalam kurang lebih 150 tahun, aritmetika fiskal dari beban bunga yang terus naik, dan geoekonomi fragmentasi perdagangan menuju blok. Seluruh angka bersumber dari BPS, APBN KITA, OECD dan EIA, serta dapat direproduksi.
Lokasi

Jakarta

Jakarta, DKI Jakarta

event Ekonomi

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% (yoy) pada Triwulan I-2026, triwulan pertama terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Yang menarik justru komposisinya. Konsumsi pemerintah tumbuh 21,81% dan menyumbang 1,26 poin persentase dari 5,61 tersebut — dari basis yang setahun sebelumnya terkontraksi, sehingga sulit berulang. Di dalam industri pengolahan, pertumbuhan ditopang industri logam dasar, yaitu rantai nikel dan hilirisasi, serta industri makanan dan minuman, tempat program Makan Bergizi Gratis bermuara. Subsektor padat karya yang berorientasi ekspor — tekstil, alas kaki, furnitur, kayu, karet dan plastik, serta alat angkutan — datar atau menyusut, dan PMI manufaktur sudah lima bulan berturut-turut berada di bawah 50.

Sisi eksternal berbalik arah sepanjang tahun. Surplus perdagangan turun dari USD 15,4 miliar menjadi USD 4,0 miliar dalam dua belas bulan, dan Mei 2026 sendiri sudah mencatat defisit. Harga Brent rata-rata sekitar USD 90 terhadap asumsi APBN USD 70, dengan puncak USD 138 pada April. Hal ini muncul bersamaan pada tagihan impor migas, inflasi harga diatur pemerintah, dan beban subsidi serta kompensasi yang sudah mencapai 52,1% pagu setahun dalam enam bulan.

Bagian fiskal menyampaikan satu argumen: kendalanya bukan pada stok utang, yang berada di sekitar 40% PDB, melainkan pada beban bunga. Pembayaran bunga neto naik dari 1,36% PDB pada 2014 menjadi diproyeksikan 2,43% pada 2026, sementara keseimbangan primer bertahan mendekati nol. Defisit yang sebagian besar berupa bunga tidak dapat diselesaikan hanya dengan disiplin belanja. Bagian terakhir membahas geoekonomi — risiko geopolitik yang meningkat, intervensi kebijakan industri yang kini kira-kira dua kali lipat dibanding dekade 2010-an, perdagangan yang tertata ulang menurut blok, serta konsentrasi impor Indonesia, dengan Tiongkok kini memasok 41,83% impor nonmigas.

Krisna Gupta
Penulis
Tenaga Ahli Madya

Nama saya Krisna, sering dipanggil juga Imed. Saya adalah Tenaga Ahli Madya di Dewan Ekonomi Nasional. Riset saya tentang dampak kebijakan perdagangan dan investasi terhadap pertumbuhan sektor manufaktur di Indonesia. Saya menggunakan metode persamaan linear struktural seperti GTAP, tapi juga menggunakan berbagai teknik ekonometrika seperti gravity models.

Saya saat ini mengajar Program Sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Saya juga adalah mitra senior di Center for Indonesian Policy Studies. Saya cukup aktif berkontribusi menulis di media massa seperti Kompas, Jakarta Post, dan East Asia Forum.